---===||| WELCOME ||| SEMOGA ANDA DAPAT MENEMUKAN YANG ANDA CARI ||| SELAMAT MEMBACA ARTIKEL SAYA |||===---
TENTANG SAYA


Kang Didin
dapat dihubingi di: www.kangdidin.co.nr www.mytekno.blogspot.com
GALERI





RENUNGKANLAH
Tinggalkan apa yang meragukanmu , kerjakanlah apa yang tidak meragukanmu , sesungguhnya kebenaran membawa ketenangan, dan dusta itu menimbulkan keraguan. (Attirmidzi)

Semua muslim adalah bersaudara, tidaklah lebih utama satu sama lain melainkan karena takwa. (thabrani)

Malu itu bagian dari iman,dan iman itu di surga ; sedangkan ucapan kasar bagian dari sifat kasar, dan sifat kasar itu di neraka. (at tirmidzi)

jauhilah olehmu prasangka, sesungguhnya parasangka itu sedusta dusta perkataan. (bukhary)

Tidaklah seorang mu'min jatuh dalam satu lubang dua kali. (bukhary)

Bertakwalah kepada ALLAH dimana saja engkau berada, dan ikutilah perbuatan kejahatan itu dengan kebaikan supaya terhapus kejahatan, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan budi yang baik (Attirmidzi

Tidaklah seorang mu'min itu suka mencela, dan tidak pula suka melaknat, dan tidak keji mulut dan tidak berkata kotor. (muslim)

kebaikan itu banyak, tetapi sedikit yang mengamalkannya. (khatib)
THANKS TO
ALLAH SWT

Muhammad SAW

Ibunda

Ayahanda

Akang

Adikku
KETERANGAN IP
ETIKA PENEMUAN ILMIAH
12 Januari 2010
A. PENDAHULUAN
Dunia, kini sedang dalam taraf gencar-gencarnya untuk penyebaran dan penerapan Ilmu Pengetahuan, ibarat manusia sedang dalam masa remaja, sehingga sering kali belum memperhatikan rambu-rambu yang bersifat mendasar. Meskipun telah banyak pula pandangan-pandangan kritis terhadap perkembangan teknologi yang tak terkendali. Namun masih banyak yang secara ambisius ingin berteknologi tinggi tanpa memperhitungkan matang dalam hal mental, sosial dan struktural. Akibatnya semakin sukar untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk dalam aplikasi Ilmu dan Teknologi.


Tanggung jawab ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut tanggung jawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan Ilmu pengetahuan dan teknologi masa lalu. Penemuan-penemuan baru dalam Ilmu dan teknologi terbukti ada yang mengubah suatu aturan baikk alam maupun manusia.
Tanggung jawab dalam ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut problem etis, karena menyangkut ketegangan-ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada.

B. PEMBAHASAN
Ilmu merupakan suatu cara berpikir tentang sesuatu objek yang khas dengan pendekatan tertentu sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan ilmiah. Ilmiah dalam arti sistem dan struktur ilmu dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Penelitian Ilmiah adalah suatu proses Ilmiah untuk menemukan teori-teori Ilmiah dalam sebuah Ilmu. Suatu keharusan bagi ilmuwan memiliki moral dan akhlak untuk membuat pengetahuan ilmiah menjadi pengetahuan yang didalamnya memiliki karakteristik kritis, rasional, logis, objektif, dan terbuka. Disamping itu, pengetahuan yang sudah dibangun harus memberikan kegunaan bagi kehidupan manusia, menjadi penyelamat manusia, serta senantiasa menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Di sinilah letak tanggung jawab ilmuwan untuk memiliki sikap ilmiah
Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang didalam dirinya memiliki karakteristik krisis, rasional, logis, objektif, dan terbuka. Hal ini merupakan suatu keharusan bagi seorang ilmuwan untuk melaksanakanya. Namun selain itu juga masalah yang mendasar yang dihadapi ilmuwan setelah ia membangun suatu bangunan yang kokoh dan kuat adalah masalah kegunaan ilmu bagi kehidupan manusia. Memang tak dapat disangkal bahwa ilmu telah membawa manusia kearah perubahan yang cukup besar. Akan tetapi dapatkah ilmu yang kokoh, kuat, dan mendasar itu menjadi penyelamat manusia bukan yang sebaliknya. Disinilah letak tanggung jawab seorang ilmuwan, moral dan akhlak amat diperlukan. Oleh karenanya peting bagi para ilmuwan memiliki sikap ilmiah.

Sikap Ilmiah
Para ilmuwan sebagai profesional di bidang keilmuan tentu perlu memiliki visi moral, yang dalam filsafat ilmu disebut sebagai sikap ilmiah, yaitu suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang bersifat objektif, yang bebas dari prasangka pribadi, dapat dipertanggungjawabkan secara sosial dan kepada Tuhan.
Sikap ilmiah harus dimiliki oleh setiap ilmuwan.hal ini disebabkan oleh karena sikap ilmiah adalah suatu sikap yang diarahklan untuk mencapai suatu pengetahuan ilmiah yang bersifat objektif. Sikap ilmiah bagi seorang ilmuwan bukanlah membahas tentang tujuan dari ilmu, melainkan bagaimana cara untuk mencapai suatu ilmu yang bebas dari prasangka pribadi dan dapat dipertanggung jawabkan secara sosial untuk melestarikan dan menyeimbangkan alam semesta ini,serta dapat dipertangung jawabkan kepada Tuhan.artinya selaras dengan kehendak manusia dan kehendak Tuhan.
Adapun sikap ilmiah yang perlu dimiliki oleh para ilmuwan sedikitnya ada enam, yaitu:
1. Tidak ada rasa pamrih (disinterstedness), merupakan sikap yang diarahkan untuk mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif dan menghilangkan pamrih.
2. Bersikap selektif, yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan mampu mengadakan pemilihan terhadap segala sesuatu yang dihadapi.
3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat inderaserta budi (mind).
4. Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan (belief) dan dengan merasa pasti ( conviction) bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian.
5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap penelitian yang telah dilakukan, sehingga selalu ada dorongan untuk riset. Dan riset atau penelitian merupakan aktifitas yang menonjol dalam hidupnya.
6. Memiliki sikap etis (akhlak) yang selalu berkehendak untuk mengembangkan ilmu bagi kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia.

Norma-norma umum bagi etika keilmuan sebagaimana yang telah dipaparkan secara normatif berlaku bagi semua ilmuwan. Hal ini karena pada dasarnya seorang ilmuwan tidak boleh terpengaruh oleh sistem budaya,sistem politik,sistem tradisi,atau apa saja yang hendak menyimpangkan tujuan ilmu. Tujuan ilmu yang dimaksud adalah objektivitas yang berlaku secara universal dan komunal.

Penerapan dari ilmu membutuhkan dimensi etika sebagai pertimbangan dan yang mempunyai pengaruh pada proses perkembangannya lebih lanjut. Tanggung jawab etika menyangkut pada kegiatan dan penggunaan ilmu. Dalam hal ini pengembangan ilmu pengetahuan harus memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, keseimbangan ekosistem, bersifat universal dan sebagainya, karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia dan bukan untuk menghancurkannya. Penemuan baru dalam ilmu pengetahuan dapat mengubah suatu aturan alam maupun manusia. Hal ini menuntut tanggung jawab etika untuk selalu menjaga agar yang diwujudkan tersebut merupakan hasil yang terbaik bagi perkembangan ilmu dan juga eksistensi manusia secara utuh.

Etika Keilmuan
Secara terminologi, etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik dan buruk. Etika merupakan salah satu bagian dari teori tentang nilai atau yang dikenal dengan aksiologi. Yang dapat dinilai baik dan buruk adalah sikap manusia yang menyangkut perbuatan, tingkah laku, gerakan, kata dan sebagainya. Dalam etika ada yang disebut etika normatif, yaitu suatu pandangan yang memberikan penilaian baik dan buruk, yang harus dikerjakan dan yang tidak.

Etika sering disamakan dengan moralitas, padahal berbeda. Moralitas adalah nilai-nilai suatu perilaku orang atau masyarakat sebagaimana bisa ditemukan dalam kehidupan real manusia sehari-hari, yang belum disistematisasi sebagai suatu teori. Ketika suatu perilaku-perilaku moral lantas dirumuskan menjadi-teori-teori, maka barulah dapat disebut sebagai etika. Etika dibutuhkan sebagai pengantar pemikiran kritis yang dapat membedakan antara apa yang sah dan tidak sah, membedakan apa yang benar dan apa yang tidak benar. Dengan demikian etika memberikan kemungkinan kepada kita untuk mengambil sikap sendiri serta ikut menentukan arah perkembangan tersebut
Etika termasuk kelompok filsafat praktis dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu etika umum dan etika khusus.etika merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan moral. Etika berkaitan erat dengan berbagai masalah-masalah nilai karena etika pada pokoknya membicarakan masalah-masalah predikat nilai “susila” dan “tidak susila” “baik” dan “buruk”. Kualitas-kualitas ini di namakan kebajikan yang dilawan dengan kejahatan yang berarti sifat-sifat yang menunjukkan bahwa orang yang memilikinya dikatakan orang yang tidak susila. Sesunguhnya etika lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubunganya dengan tingkah laku manusia.

Masalah besar bagi etika khusus adalah bagaimana seseorang harus bertindak dalam bidang atau masalah tertentu, dan bidang itu perlu ditata agar mampu menunjang mencapai kebaikan hidup manusia sebagai manusia. Menurut Magnis Suseno(1987), Etika khusus dibagi menjadi dua yaitu Etika Individual dan Etika Sosial, yang keduanya berkaitan dengan tingkah laku manusia sebagai masyarakat. Etika individual membahas kewajiba manusia terhadap diri sediri dan kaitanya degan kedudukan manusisa sebagai warga masyarakat.

Sedangkan etika sosial membahas tentang kewajiban manusia sebagai anggota masyarakat atau umat mausia.dalam masalah ini etika individual tidak dapat dipisahkan dengan etika sosial, karena kewajiban terhadap diri sendiri dan sebagai anggota masyarakat atau umat manusia saling berkaitan dan tidak saling dipisahkan.

Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia lain baik secara langsung maupundalam bentuk kelembagaan (keluarga,masyarakat dan negara), sikap kritis terhadap pandangan-pandangan dunia, idiologi-idiologi maupun tanggung jawab manusia terhadap ligkungan hidup. Jadi etika sosial tentan ilmuwan yang baik (etika ilmiah) adalah salah satu jenis etika khusus, disamping etika-etika khusus lainya seperti etika politik, etika bisnis dan lain sebagainya.

Etika sosisal berfungsi membuat manusia menjadi sadar akan tanggung jawabnya sebagai manusia dalam kehidupanya, sebagai anggota masyarakat, menurut dimesinya. Demikian juga etika profesi yang merupakan etika khusus dalam etika sosial mempunyai tugas dan tanggung jawab kepada ilmu dan profesi yang disandangnya. Dalam hal ini, para ilmuwan harus berorientasi pada rasa sadar akan tanggung jawab profesi dan tanggung jawab sebagai ilmuwan yang melatar belakangi corak pemikiran ilmiah dan sikap ilmiahnya.

Disamping etika keilmuan yang berupa sikap ilmiah berlaku secara umum, pada kenyataanya masih ada etika keilmuan yang secara spesifik berlaku bagi kelompok-kelompok ilmuwan tertentu. Misalnya, etika kedokteran, etika rekayasa, etika bisnis, etika politisi, serta etika-etika profesi lainya yang secara normatif berlaku dan dipatuhi oleh kelompoknya itu. Taat asas dan kepatuhan terhadap norma-norma etis yang berlaku bagi para ilmuwan diharapkan akan menghilangkan kegelisahan serta ketakutan manusia terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Bahkan diharapkan manusia akan semakin percaya pada ilmu yang membawanya pada suatu keadaan yang membahagiakan dirinya sebagai manusia. Hal ini sudah barang tentu jika pada diri para ilmiwan tidak ada sikap lain kecuali pencapaian objektivitas dan demi kemajuan ilmu untuk kemanusiaan

Etika Penelitian Dan Penemuan Ilmiah
Suatu penemuan ilmiah selalu dimulai dengan berbagai penemuan ilmiah yang sebelumnya. Yang berarti bahwa, suatu penemuan ilmiah mendorong untuk dilakukan penelitian lebih lanjut, atau membuka peluang bagi penmuan ilmiah yang lainnya.
Demi tujuan popularitas dan ketenaran dalam waktu secepat mungkin, tidak sedikit dalam waktu sejarah penelitian ilmiah terjadi plagiasi, atau bahkan lebih parah dari pada plagiasi, pengetikan ulang hasil penelitian orang lain. Plagiasi ilmu jelas merupakan suatu perbuatan ilmiah yang sama sekali tidak etis, yakni ketidak jujuran ilmiah.

Ilmuwan dituntut lebih pada perilaku etisnya dalam berilmu daripada rumusan penemuan ilmiah. Rumusan penemuan ilmiah tidak akan dilahirkan secara murni dan original, apabila orang mengklim hasil penemuan ilmiah orang lain sebagai hasil penemuan ilmiahnya. Oleh karena itu, syarat-syarat etis sebagai ilmuan adalah berlaku jujur dan fair dalam penelitian ilmiah, memposisikan keunikan penelitian dengan menelusuri penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya, tidak melakukan klaim bahwa penemuan ilmiahnya adalah satu-satunya teori yang harus diikuti karena setiap penemuan ilmiah dimungkinkan mengandung kesalahan, dan tidak menafsirkan data-data penelitian seenaknya sendiri menurut kepentingan pribadi semata dengan mengorbankan kepentingan objek ilmiahnya.

Yang terpenting dari sebuah nilai adalah bukan nilai, melainkan kebenaran. Sehingga dalam kaitan ini, etika sebenarnya tidak termasuk dalam kajian ilmu dan juga anak kandungnya eknologi secara langsung yang bersifat otonom. Namun demikian, dalam aspek penggunaan atau penerapan ilmu dan teknologi untuk kepentingan kehidupan manusia dan ekologi, etika memiliki peran yang sangat menentukan tidak hanya bagi perkembangan ilmu dan teknologi selanjutnya, tetapi juga bagi keberlangsungan eksistensi manusia dan ekologi. Dengan demikian, etika lebih merupakan suatu dimensi pertanggungjawaban moral dari ilmu.


C. KESIMPULAN
• Sikap-sikap yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan adalah: Etika, Moral, Norma, Kesusilaan, dan Estetika. Jika sikap-sikap tersebut tidak dimiliki walaupun seseorang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi , maka “derajatnya” akan dipandang rendah dimasyarakat.
• Syarat-syarat etis sebagai ilmuan adalah berlaku jujur dan fair dalam penelitian ilmiah, memposisikan keunikan penelitian dengan menelusuri penelitian-penelitian yang sudah ada sebelumnya, tidak melakukan klaim bahwa penemuan ilmiahnya adalah satu-satunya teori yang harus diikuti karena setiap penemuan ilmiah dimungkinkan mengandung kesalahan, dan tidak menafsirkan data-data penelitian seenaknya sendiri menurut kepentingan pribadi semata dengan mengorbankan kepentingan objek ilmiahnya.


D. Refferensi:
Tim Dosen Filsafat UGM, Filsafat Ilmu. Liberty. Yogyakarta: 2007
Suriassumantri jujun s, Filsafat Ilmu sebuah pengantar populer. PT Pancarita Indra Graha. Yogyakarta: 2007.
http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1862517-filsafat-ilmu-perkembangannya-di-indonesia/.
Peter soedojo, Pengantar Sejarah dan Filsafat Ilmu Pengetahuan, Gajah Mada University Press. Yogyakarta: 2004
Prof. Dr. H. Noeng Muhadjir, Filsafat Ilmu Positivisme, Postpositivisme, Postmodernisme, Rakesarasin. Yogyakarta: 2001
________, Filsafat Ilmu, Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta

Label: ,

Ditulis Oleh Kang Didin @ Pada Jam 20:24  
0 Comments:
Poskan Komentar
<< Home
 
KATEGORI
  • KOMPUTER
  • PENGETAHUAN
  • KATA MUTIARA
  • HUMOR
  • TAUSIAH
  • TUGAS KULIAH
  • POSTING SEBELUMNYA
    ARSIP BULANAN
    LIHAT DUNIA LUAR
    JUMLAH PENGUNJUNG

    DIDUKUNG OLEH

    BLOGGER

    ---===||| TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA -==|||==- SILAHKAN POSTING KOMENTAR ANDA DISINI |||===---


    © Copy Left By Kangdidin ||| Created At Juli 2008
    Official: "Mandiri Cybernet" Jl. Timoho No 95 Yogyakarta