---===||| WELCOME ||| SEMOGA ANDA DAPAT MENEMUKAN YANG ANDA CARI ||| SELAMAT MEMBACA ARTIKEL SAYA |||===---
TENTANG SAYA


Kang Didin
dapat dihubingi di: www.kangdidin.co.nr www.mytekno.blogspot.com
GALERI





RENUNGKANLAH
Tinggalkan apa yang meragukanmu , kerjakanlah apa yang tidak meragukanmu , sesungguhnya kebenaran membawa ketenangan, dan dusta itu menimbulkan keraguan. (Attirmidzi)

Semua muslim adalah bersaudara, tidaklah lebih utama satu sama lain melainkan karena takwa. (thabrani)

Malu itu bagian dari iman,dan iman itu di surga ; sedangkan ucapan kasar bagian dari sifat kasar, dan sifat kasar itu di neraka. (at tirmidzi)

jauhilah olehmu prasangka, sesungguhnya parasangka itu sedusta dusta perkataan. (bukhary)

Tidaklah seorang mu'min jatuh dalam satu lubang dua kali. (bukhary)

Bertakwalah kepada ALLAH dimana saja engkau berada, dan ikutilah perbuatan kejahatan itu dengan kebaikan supaya terhapus kejahatan, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan budi yang baik (Attirmidzi

Tidaklah seorang mu'min itu suka mencela, dan tidak pula suka melaknat, dan tidak keji mulut dan tidak berkata kotor. (muslim)

kebaikan itu banyak, tetapi sedikit yang mengamalkannya. (khatib)
THANKS TO
ALLAH SWT

Muhammad SAW

Ibunda

Ayahanda

Akang

Adikku
KETERANGAN IP
ILMU ADALAH KEBUTUHAN
17 Oktober 2008
“Apakah dapat disamakan orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.” (QS. Az Zumar (39) : 9).


Ilmu berasal dari bahasa Arab, ‘alama. Arti dasar dari kata ini adalah pengetahuan. Penggunaan kata ilmu dalam proposisi bahasa Indonesia sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris.

Kata science itu sendiri memang bukan bahasa Asli Inggris, tetapi merupakan serapan dari bahasa Latin, Scio, scire yang arti dasarnya pengetahuan. Ada juga yang menyebutkan bahwa science berasal dari kata scientia yang berarti pengetahuan. Scientia bersumber dari bahasa Latin Scire yang artinya mengetahui.


Kebutuhan seorang hamba akan ilmu itu lebih mendesak dibandingkan dengan kebutuhan jasmaninya akan makanan. Jasmani hanya membutuhkan makan, sekali atau 2 kali dalam sehari. Sementara ilmu dibutuhkan oleh manusia pada setiap saat dalam kehidupannya, guna mempertahankan eksistensi keimanan diri. Sebagaimana halnya makanan, yang dipergunakan manusia untuk kelangsungan hidup. Karena seandainya keimanan tidak dipupuk dengan ilmu, maka ibarat tanaman menjadi layu bahkan hancur. Sehingga tidaklah terwujud keberadaan iman seorang kecuali dengan ilmu. Al Imam Ahmad menyatakan : “Manusia sangat membutuhkan ilmu dari sekedar menyantap makanan dan minuman; karena makanan dan minuman dibutuhkan oleh manusia sekali atau dua kali dalam sehari. Sedangkan ilmu ilmu dibutuhkan setiap saat.” (Thobaqot Al Hanabilah 1/147).

Bahkan seluruh makhluk Allah sangat butuh kepada ilmu. Karena tidak akan tegak urusan makhluk kecuali dengan ilmu. Langit-langit dan bumi bisa berdiri kokoh adalah dengan ilmu, begitu pula diturunkannya para rasul dan kitab-kitab-Nya juga dengan ilmu. Serta tidak akan diketahui perkara halal harom kecuali dengan ilmu. Oleh karena itu, kewajiban seseorang dalam menuntut ilmu syar’i berlangsung hingga menjelang wafat. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam senantiasa menyampaikan dakwah dan nasehat hingga menjelang wafat beliau.

Sesungguhnya ilmu adalah kehidupan dan cahaya, sedangkan kebodohan adalah kematian dan kegelapan. Allah SWT menolak menyamakan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, sebagaimana Allah menolak menyamakan keburukan dengan kebaikan, orang buta dengan orang melihat, cahaya dengan kegelapan, naungan dengan hawa panas, penghuni neraka dengan penghuni surga, orang-orang beriman dengan orang-orang kafir dan orang-orang bertaqwa dengan orang-orang berdosa. Hal ini menunjukkan, bahwa kedudukan orang berilmu terhadap orang bodoh adalah seperti kedudukan cahaya terhadap kegelapan.

Semua kejahatan dan keburukan penyebabnya adalah tidak adanya kehidupan dan cahaya, dan semua kebaikan penyebabnya adalah cahaya dan kehidupan.

Cahaya itu membongkar hakikat segala sesuatu dan menjelaskan peringatan-peringatannya, sedangkan kehidupan ia adalah pembimbing kepada sifat-sifat kesempurnaan, dan mengharuskan terbentuknya perkataan dan tindakan yang tepat. Sehingga kebutuhan manusia kepada ilmu adalah kebutuhan primer melebihi kebutuhan badan kepada makanan, karena badan membutuhkan makanan dalam sehari hanya sekali atau dua kali, sedangkan kebutuhan manusia kepada ilmu sangat banyak sebanyak jumlah nafas, karena setiap nafasnya dibutuhkan iman atau hikmah. Jika nafasnya nihil dari iman dan hikmah, sungguh ia binasa, semakin dekat kematiannya dan tidak mendapatkan jalan untuk membebaskan diri kecuali dengan ilmu. Jadi kebutuhan manusia kepada ilmu lebih besar daripada kebutuhan badan kepada makanan dan minuman.

Ayat yang pertama kali diturunkan Allah Ta’ala dalam Al Qur’an adalah surat Al Alaq : 1-5. Di dalamnya Allah Ta’ala menyebutkan apa saja yang telah Dia anugerahkan kepada manusia seperti nikmat pengajaran apa yang tidak mereka ketahui, Allah Ta’ala menyebutkan di dalamnya karunia-Nya yaitu pengajaran-Nya, dan mengutamakan manusia dengan pengajaran yang Dia berikan kepada mereka. Ini menjadi bukti kemuliaan ilmu dan pengajaran.

Setiap orang pasti mengetahui keutamaan ilmu. Sesungguhnya manusia itu berbeda dari semua binatang yang ada dengan ilmu, akal dan pemahaman yang diberikan secara khusus kepadanya. Jika ia tidak mempunyai ilmu, akal dan pemahaman, maka yang tersisa padanya adalah kesamaan antara dirinya dengan seluruh binatang, yaitu sifat kebinatangan. Terhadap orang seperti itu, manusia tidak malu kepadanya dan tidak berhenti dari kejahatannya kendati orang tersebut ada di tengah-tengah mereka dan melihat mereka.

Allah SWT menampakkan keutamaan Adam as. daripada malaikat adalah karena ilmu, sehingga Allah menyuruh para malaikat agar sujud kepada Adam as.

Keutamaan ilmu yang paling nyata adalah bahwa ilmu merupakan sarana untuk bertaqwa kepada Allah, dimana dengan taqwa manusia akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah yaitu surga kebahagiaan abadi. Abu Musa ra. berkata: Bersabda Nabi SAW:

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diberikan oleh Allah kepada saya bagaikan hujan yang turun ke tanah, maka sebagian ada yang subur (baik) dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan serta rumpun yang banyak sekali. Dan ada pula tanah yang keras menahan air, hingga berguna untuk minuman dan penyiram kebun tanaman; dan ada beberapa tanah hanya keras-kering tidak dapat menahan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikianlah contoh orang pandai di dalam agama Allah dan mempergunakan apa yang diberikan Allah kepadaku lalu mengajar, dan perumpamaan orang yang tidak dapat menerima petunjuk Allah yang telah ditugaskan kepadaku.” (HR. Bukhari Muslim)



Dikutip dari:
www.materitarbiyah.wordpress.com
www.mail-archive.com/audiosalafi@googlegroup.com
www.xipemia.wordpress.com

Label:

Ditulis Oleh Kang Didin @ Pada Jam 18:31  
0 Comments:
Poskan Komentar
<< Home
 
KATEGORI
  • KOMPUTER
  • PENGETAHUAN
  • KATA MUTIARA
  • HUMOR
  • TAUSIAH
  • TUGAS KULIAH
  • POSTING SEBELUMNYA
    ARSIP BULANAN
    LIHAT DUNIA LUAR
    JUMLAH PENGUNJUNG

    DIDUKUNG OLEH

    BLOGGER

    ---===||| TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA -==|||==- SILAHKAN POSTING KOMENTAR ANDA DISINI |||===---


    © Copy Left By Kangdidin ||| Created At Juli 2008
    Official: "Mandiri Cybernet" Jl. Timoho No 95 Yogyakarta